news image
news 19 Mei 2023

LAMP atau LEMP, Apa Perbedaannya?

Berbicara mengenai konfigurasi web server, seringkali kita akan menemukan istilah LAMP dan LEMP. Walau nyaris sama, nyatanya kedua istilah ini memiliki perbedaan, khususnya pada software web server yang digunakan. 


 

Jadi, apa itu LAMP dan LEMP? Apa perbedaan antara keduanya dan fungsinya? Yuk, simak artikel ini untuk penjelasan lebih lanjutnya! 


 

Apa itu LAMP dan LEMP? 

LAMP merupakan singkatan dari Linux, Apache, MySQL, dan PHP. Sedangkan LEMP merupakan Linux, Nginx, MySQL, dan PHP. Keduanya merupakan stack yang paling sering digunakan oleh Sysadmin maupun developer untuk mengelola website karena open source. Adapun yang membedakan keduanya hanya dari sisi web server, bila LAMP menggunakan Apache dan LEMP menggunakan Nginx. 


 

LAMP 

Linux, Apache, MySQL, dan PHP (LAMP) merupakan kumpulan komponen yang membentuk stack web server. Istilah LAMP diciptakan oleh Michael Kunze pada sebuah majalah Jerman pada 1998. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, empat lapisan LAMP terdiri dari:

 

  • Linux adalah sistem operasi open source yang memberikan basis untuk LAMP. Linux memberikan keamanan dan stabilitas yang tinggi, serta dapat dikonfigurasi sesuai dengan kebutuhan pengguna. Hal ini juga memungkinkan pengguna untuk menggunakan banyak alat dan teknologi yang tersedia untuk sistem operasi Linux.
  • Apache merupakan server web open source yang digunakan untuk meng-host aplikasi web. Apache memproses permintaan yang diterima dari browser dan mengirimkan konten yang diminta kembali ke browser. Server web menyediakan berbagai fitur, seperti dukungan untuk pemrosesan PHP dan akses ke database MySQL.
  • MySQL adalah sistem manajemen basis data open source yang digunakan untuk menyimpan data pada aplikasi web. MySQL menyediakan akses ke database dan memungkinkan pengguna untuk menyimpan, mengambil, dan memodifikasi data pada server.
  • PHP merupakan bahasa scripting untuk membangun aplikasi dan halaman website dinamis. PHP menjalankan kode di sisi server dan memproses permintaan dari browser. Dalam kombinasi dengan Apache dan MySQL, PHP memungkinkan pengguna untuk membuat aplikasi web dinamis dan interaktif. 


 

Jadi, konfigurasi LAMP ini menggunakan sistem operasi Linux sebagai platform dasarnya, server web Apache sebagai server webnya, MySQL sebagai sistem manajemen database, dan PHP sebagai bahasa pemrograman server-side.  


 

LAMP bekerja dengan cara menerima permintaan halaman web dari browser dan mengirimkannya ke server web Apache. Jika permintaan tersebut berupa file PHP, maka server web akan meneruskannya ke bahasa pemrograman server-side PHP untuk dieksekusi. Jika permintaan tersebut memerlukan akses ke data, server web akan meminta sistem manajemen database MySQL untuk mengambil data yang diminta oleh kode PHP. Setelah data dan kode diproses, hasilnya akan dikirim kembali ke browser untuk ditampilkan sebagai halaman web. 


 

Selain itu, LAMP juga bersifat fleksibel karena Apache memiliki desain modular yang memungkinkan penambahan modul khusus untuk meningkatkan fungsionalitasnya. 


 

LEMP 

Linux, Nginx, MySQL, dan PHP (LEMP) adalah sebuah konfigurasi web server yang menggunakan Linux sebagai sistem operasi, Nginx sebagai server web, MySQL sebagai sistem manajemen database, dan PHP sebagai bahasa pemrograman server-side.  


 

Berbeda dengan sebelumnya, dalam konfigurasi ini, Nginx menggantikan Apache sebagai server web, sehingga akronim LEMP dihasilkan dari kombinasi inisial teknologi-teknologi tersebut. Menariknya, huruf "E" digunakan untuk mewakili Nginx dalam singkatan LEMP, bukan huruf "N". Hal ini karena ketika dibaca, Nginx terdengar seperti memiliki huruf "E" di depan. 


 

Untuk memahami perbedaan antara LAMP dan LEMP yang terletak pada penggunaan Nginx, kita perlu mengenal Nginx dengan lebih jelas. Nginx adalah server web yang berjalan di sistem operasi Linux, dan terkenal karena kecepatan dan efisiensinya.  


 

Nginx mendukung berbagai protokol, termasuk HTTP, HTTPS, SMTP, POP3, dan IMAP, serta dapat berfungsi sebagai penyeimbang beban dan cache HTTP. Nginx juga menekankan implementasi konkurensi yang tinggi dan kinerja yang optimal, namun dengan penggunaan memori yang rendah. 


 

Lebih dari itu, Nginx adalah server web open source yang dikembangkan untuk melayani konten web dengan kecepatan dan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Apache. Nginx juga dikenal karena kemampuannya dalam menangani traffic yang tinggi sehingga sering digunakan untuk aplikasi yang memerlukan kinerja tinggi dan skalabilitas. 


 

LEMP juga populer di antara pengembang aplikasi web, terutama mereka yang terbiasa menggunakan bahasa pemrograman PHP. LEMP memberikan alternatif yang menarik bagi mereka yang ingin memanfaatkan kecepatan dan efisiensi Nginx sebagai server web, namun tetap ingin menggunakan bahasa pemrograman server-side PHP dan sistem manajemen database MySQL. 


 

Apa saja perbedaan Apache dan Nginx? 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Apache adalah web server open source yang sangat populer di kalangan pengembang web. Dirilis pertama kali pada tahun 1995, Apache saat ini menguasai sekitar 40% pangsa pasar web server. Apache dikembangkan dengan bahasa pemrograman C dan C++, dan menyediakan dukungan untuk berbagai fitur seperti caching, SSL, dan server-side scripting menggunakan bahasa pemrograman PHP. 


 

Di sisi lain, Nginx adalah web server open source yang lebih baru dibandingkan dengan Apache. Dirilis pertama kali pada tahun 2004, Nginx saat ini menguasai sekitar 30% pangsa pasar web server. Nginx dikembangkan dengan bahasa pemrograman C dan digunakan oleh banyak perusahaan besar, seperti Netflix, Airbnb, dan Dropbox. Nginx dikenal karena kecepatan dan efisiensinya dalam menangani lalu lintas web yang tinggi, dan sering digunakan sebagai proxy reverse dan load balancer


 

Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara Apache dan Nginx. Berikut ini beberapa perbedaan utama antara kedua web server tersebut:

 

  1. Arsitektur: Apache menggunakan arsitektur proses yang berat, dimana setiap koneksi membutuhkan proses yang terpisah. Sementara itu, Nginx menggunakan arsitektur non-blokir yang ringan, dimana satu proses dapat melayani banyak koneksi secara bersamaan.


     
  2. Performa: Kinerja Nginx lebih baik dibandingkan dengan Apache dalam situasi tertentu, terutama ketika terjadi lalu lintas web yang tinggi. Nginx memiliki kemampuan untuk menangani lebih banyak koneksi dalam waktu yang sama dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit, sehingga menjadi pilihan yang lebih baik untuk aplikasi web dengan traffic yang tinggi. 
     
     
  3. Konfigurasi: Apache memiliki konfigurasi yang lebih fleksibel dibandingkan dengan Nginx dengan dukungan untuk berbagai jenis modul. Sementara itu, Nginx memiliki konfigurasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami, cocok bagi developer yang ingin menyelesaikan tugas dengan cepat. 
     
     
  4. Keamanan: Nginx dikenal karena keamanannya yang lebih baik dibandingkan dengan Apache. Nginx dirancang untuk menangani serangan DDoS dan serangan peretasan lainnya, dan memiliki fitur keamanan bawaan, seperti modul firewall dan dukungan untuk SSL/TLS. 
     
     
  5. Memori: Apache membutuhkan lebih banyak penggunaan memori dibandingkan dengan Nginx. Apache perlu memuat modul tambahan untuk menangani berbagai fitur, sehingga penggunaan memori menjadi lebih besar. Sementara itu, Nginx dirancang untuk menggunakan sumber daya yang lebih sedikit dalam pengaturan standar. 


Jadi, baik web server Apache dan Nginx, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apache dan Nginx adalah dua pilihan utama yang bisa kamu pertimbangkan. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda.  
 

Apache merupakan web server yang stabil, fleksibel, dan populer. Sementara itu, Nginx itu web server yang kenceng banget dan efisien, dengan kemampuan penyeimbang beban yang kuat.  


 

Nah, untuk menjalankan LAMP maupun LEMP, kamu bisa menggunakan layanan VPS untuk dapat menginstal Apache maupun Nginx pada server milikmu, misalnya dengan memilih layanan VPS NEO Lite dari Biznet Gio. 


 

Layanan NEO Lite juga didukung gratis bandwidth hingga 10 Gbps tanpa kuota. Tak hanya itu, VPS dari Biznet Gio ini juga memiliki layanan pelanggan dengan response time di bawah 15 menit yang akan membantumu jika seandainya terjadi kendala.  


 

Selain itu, untuk pilihan paket NEO Lite mulai dari MM 8.4 sudah dilengkapi gratis lisensi cPanel Solo® Cloud yang bisa digunakan untuk mempermudah pengelolaan server pada satu dashboard terintegrasi. NEO Lite bisa kamu dapatkan dengan harga mulai dari Rp50.000/bulan dan kamu bisa mendapatkan sumber daya hingga 16 Core vCPU, 16GB RAM, penyimpanan SSD 60 GB yang bisa ditingkatkan, dan gratis public IP.  


 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan kami dan layanan server dengan gratis cPanel hubungi kami melalui support@biznetgio.com.